MIN 5 Maluku Tengah Perkuat Kompetensi Guru Lewat Kegiatan Moderasi Beragama dan KKG

oleh -2 views
banner 468x60

 

 

banner 336x280

TULEHU,TikMalukuNews.com-Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, H. Yamin menegaskan pentingnya moderasi beragama dan kurikulum berbasis cinta sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter generasi masa depan yang cerdas, toleran, dan berakhlak mulia.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Moderasi Beragama dan Kelompok Kerja Guru (KKG) Tahun 2026 yang berlangsung di MTsN 1 Maluku Tengah, Rabu (19/05/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Kabid Pendidikan Madrasah, Kabid Bimas Islam, Kabid Bimas Kristen, Pembimas Buddha, Pembimas Katolik, Pembimas Hindu, Kepala KUA Salahutu, para kepala madrasah se-Kecamatan Salahutu dan Leihitu, serta 125 peserta dari 10 madrasah di wilayah Salahutu, Leihitu, dan Leihitu Barat.

Dalam sambutannya, H. Yamin menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar yang dianugerahi keberagaman suku, budaya, dan keyakinan. Karena itu, moderasi beragama menjadi pendekatan penting dalam menjaga harmoni dan persatuan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, menghina, ataupun bermusuhan. Semua agama mengajarkan kedamaian, kasih sayang, dan bagaimana menciptakan kehidupan yang rukun, aman, harmonis, serta penuh kebahagiaan,” ujarnya.

Menurutnya, moderasi beragama bukanlah upaya mengubah ajaran agama, melainkan mengembalikan cara pandang, sikap, dan praktik beragama agar tetap berada di jalan tengah, adil, bijaksana, serta menghargai perbedaan.

Ia mencontohkan, perbedaan dalam tata cara ibadah tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Justru dari perbedaan tersebut tumbuh kesadaran untuk saling menghormati dan memahami.

“Moderasi beragama mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi kekuatan dalam membangun persatuan dan kebersamaan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Kakanwil juga menjelaskan bahwa moderasi beragama dan kurikulum cinta merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi dalam membangun karakter generasi emas Indonesia 2045.

Menurutnya, moderasi beragama menjadi landasan berpikir secara adil dan toleran, sedangkan kurikulum cinta menanamkan empati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama.

“Perpaduan keduanya bertujuan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga moderat dalam beragama, memiliki kepribadian inklusif, peduli, serta menolak segala bentuk diskriminasi dan kekerasan atas nama agama,” jelasnya.

Ia menambahkan, kurikulum berbasis cinta bukan sekadar jargon, melainkan pendekatan pendidikan yang menanamkan nilai kasih sayang sebagai fondasi interaksi sosial, termasuk kecintaan terhadap sesama manusia, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.