AMBON, TikMalukuNews.com – Ribuan kasus Tuberkulosis (TBC) pada anak masih menjadi tantangan serius di Provinsi Maluku. Rendahnya angka penemuan kasus mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya deteksi dini, pengobatan, serta pencegahan penularan secara terpadu.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa melindungi anak dari ancaman TBC bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan investasi penting bagi pembangunan manusia dan masa depan Maluku. Hal itu disampaikan dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Maluku, Faradila Attamimi, saat membuka Diskusi Strategis Lintas Sektor untuk Penguatan Penanggulangan TBC Anak di Provinsi Maluku, di Manise Hotel, Kamis (15/10/2026).
“Setiap anak yang dapat kita lindungi dari TBC adalah investasi bagi masa depan,” tegas Gubernur dalam sambutannya.

Menurutnya, TBC pada anak tidak hanya berdampak terhadap kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan keluarga, lingkungan sekolah, serta perkembangan sosial anak. Karena itu, upaya penanggulangan penyakit tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan Dinas Kesehatan maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Data penanggulangan TBC menunjukkan, pada 2025 dari target penemuan 1.793 kasus TBC anak di Maluku, baru 494 kasus atau sekitar 27,6 persen yang berhasil ditemukan. Dengan demikian, terdapat selisih 1.299 kasus dibandingkan target penemuan tersebut.
Sementara itu, pada 2026, dari target 1.488 kasus TBC anak, baru 310 anak yang berhasil ditemukan atau sekitar 20,8 persen. Capaian ini menunjukkan masih besarnya tantangan dalam menjangkau anak-anak yang diduga menderita TBC agar segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Gubernur menilai, rendahnya penemuan kasus harus menjadi perhatian bersama. Sebab, anak yang belum teridentifikasi berisiko tidak memperoleh pengobatan secara tepat waktu. Kondisi geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan turut menjadi tantangan, terutama terkait jarak antarpulau, keterbatasan transportasi, ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas diagnosis, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Penanggulangan TBC anak tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh sektor terkait,” ujarnya.

Selain memperkuat deteksi dini dan pengobatan, Gubernur mengingatkan pentingnya melindungi anak penderita TBC dari stigma dan diskriminasi. Anak-anak tersebut harus tetap memperoleh pendampingan serta hak yang sama untuk hidup sehat, belajar, bermain, dan tumbuh menjadi generasi Maluku yang berkualitas.
Ia berharap diskusi lintas sektor tersebut menghasilkan langkah konkret, mulai dari pembagian peran masing-masing instansi, pemetaan kendala penemuan kasus, penguatan diagnosis dan pengobatan, hingga penyusunan rencana aksi yang terukur di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Upaya tersebut juga perlu mencakup investigasi kontak, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi yang memenuhi indikasi, pendampingan keluarga, serta komunikasi publik untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC.
Kepala Kantor UNICEF Maluku dan Maluku Utara, Hengky Widjaja, Ph.D., mengatakan TBC masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di Maluku. Menurutnya, capaian penemuan kasus di daerah ini masih perlu ditingkatkan melalui langkah yang lebih cepat dan kolaborasi yang kuat.
Berdasarkan data yang disampaikannya, penemuan kasus TBC di Maluku baru mencapai sekitar 46 persen dari target. Memasuki Oktober 2026, percepatan penemuan kasus dinilai penting agar target yang belum tercapai dapat dikejar.
“Baru 46 persen. Kita sudah di bulan Oktober, sudah mendekati ujung. Jadi kita harus berpikir dan bertindak cepat untuk bisa mengejar target yang masih tersisa banyak,” kata Hengky.

Ia juga menyoroti penemuan kasus TBC pada anak yang masih menghadapi berbagai kendala. Dari data yang dipaparkan, sekitar 24 persen dari kasus TBC yang ditemukan merupakan kasus pada anak, dengan 354 kasus anak telah teridentifikasi.
Sementara itu, dari sekitar 4.438 kasus TBC yang telah ditemukan, sebanyak 3.660 orang sudah memperoleh penanganan. Tingkat kesembuhan dilaporkan mencapai sekitar 79 persen, meskipun masih di bawah target nasional sebesar 90 persen.
Hengky menambahkan, pemberian TPT kepada anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC juga masih menjadi tantangan. Sebagian keluarga belum bersedia menjalani terapi pencegahan meskipun terdapat anggota keluarga yang terdiagnosis TBC.
“Ini masih menjadi tantangan. Secara nasional di Indonesia memang masih menjadi masalah klasik, masih banyak anggota keluarga yang menolak untuk ikut menjalani pengobatan ketika ada anggota keluarga di rumah yang ditemukan TBC,” jelasnya.
Menurut Hengky, kondisi geografis Maluku harus dijawab melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan, mobilisasi sumber daya, serta kolaborasi lintas sektor. Dinas Pendidikan, keluarga, sekolah, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, akademisi, media, dan mitra pembangunan dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya memutus rantai penularan TBC.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Dr. Elna Anakotta, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat keterlibatan berbagai sektor dalam penanggulangan TBC pada anak. Ia menegaskan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan, tetapi juga dari kepastian bahwa anak yang teridentifikasi mendapatkan penanganan, pengobatan, dan pencegahan secara optimal.
“Bukan cuma penemuan kasus yang ingin kami sasar, tetapi bagaimana penanggulangan, pengobatan dan pencegahan kepada anak-anak itu karena mereka adalah generasi bangsa,” kata Elna.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Maluku mendorong penguatan kerja sama lintas sektor, terutama dalam memperluas jangkauan pelayanan, meningkatkan penemuan kasus, memastikan keberlanjutan pengobatan, serta memberikan terapi pencegahan TBC kepada anak dan kontak erat yang memenuhi kriteria.
Melalui sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, sekolah, dan masyarakat, diharapkan kasus TBC pada anak dapat ditemukan lebih dini sehingga penanganan dapat segera dilakukan dan risiko penularan dapat ditekan.
Bagi Pemerintah Provinsi Maluku, melindungi anak dari TBC merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan sekaligus menjamin kualitas generasi penerus. Sebab, anak-anak yang sehat menjadi salah satu fondasi utama dalam mewujudkan masa depan Maluku yang lebih baik.(TMN-01)












