AMBON, TikMalukuNews.com — SMA Negeri 11 Ambon menjalin kerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri untuk mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan pelajar.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan pendidikan karakter dan edukasi mengenai radikalisme digital yang terintegrasi dalam proses pembelajaran di sekolah.
Kepala SMAN 11 Ambon, Hj. Zakiyah Dwi Saputri, S.Pd., mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan karakter peserta didik melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).
Menurutnya, sekolah perlu membekali siswa dengan pemahaman yang memadai agar mampu mengenali dan mengantisipasi pengaruh paham radikal, terutama yang menyebar melalui ruang digital.
Ia menjelaskan, kerja sama dengan BIN dan Densus 88 menjadi bagian dari upaya sekolah menghadirkan edukasi langsung dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang pencegahan radikalisme. Sosialisasi yang direncanakan akan dilaksanakan pada November 2026 itu nantinya dilanjutkan dengan penguatan materi radikalisme digital melalui pembelajaran di kelas.
“Setelah sosialisasi, kegiatan akan dilanjutkan dengan penguatan materi radikalisme digital yang terintegrasi dalam proses pembelajaran oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK),” jelas Zakiyah.
Selain edukasi di kelas, pihak sekolah juga tengah merencanakan langkah lanjutan bersama Densus 88 untuk memantau potensi paparan konten radikal di kalangan siswa, termasuk melalui penggunaan telepon seluler. Namun, rencana pemeriksaan perangkat tersebut masih dalam tahap pembahasan dan persiapan bersama pihak terkait.
Zakiyah menegaskan, apabila dalam proses pembinaan ditemukan indikasi siswa terpapar paham radikal, sekolah akan mengedepankan pendekatan pembinaan dengan melibatkan orang tua. Jika ditemukan indikasi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, pihak sekolah akan berkoordinasi dengan Densus 88 sesuai tingkat permasalahan dan prosedur yang berlaku.
Ia berharap, kerja sama tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi dapat berlangsung secara berkelanjutan sejak siswa duduk di kelas X hingga kelas XII. Melalui pemantauan perkembangan dan penguatan edukasi secara berkala, SMAN 11 Ambon ingin membangun lingkungan pendidikan yang aman, terbuka, serta mampu membentengi peserta didik dari pengaruh radikalisme.
Zakiyah menambahkan, pihaknya terbuka terhadap kerja sama dengan berbagai institusi untuk mendukung pendidikan dan pembinaan karakter siswa. Ia berharap sinergi dengan BIN dan Densus 88 dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran pelajar terhadap bahaya radikalisme digital sekaligus membentuk generasi muda yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.(TMN-01)












