MALRA, TikMalukuNews.com – Tradisi adat dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir berpadu dalam kegiatan Buka Sasi dan Panen Raya Teripang di Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Warbal, Klasis Pulau-Pulau Kei Kecil dan Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni adat atau panen hasil laut, tetapi juga menjadi wujud nyata pemanfaatan kearifan lokal untuk memperkuat ekonomi keluarga melalui Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak dan Memasarkan (GKMBM).
Melalui gerakan tersebut, jemaat didorong untuk mengoptimalkan potensi alam di lingkungan mereka, mengembangkan usaha produktif, serta membangun kemandirian ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. S. I. Sapulette, mengapresiasi Jemaat GPM Warbal yang telah menerjemahkan semangat GKMBM ke dalam kegiatan nyata. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam secara terarah dan berkelanjutan dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat perekonomian jemaat.
Ia berharap, langkah yang dilakukan masyarakat Warbal dapat menjadi inspirasi bagi jemaat GPM lainnya untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah masing-masing.
Sapulette menegaskan, keberhasilan program tersebut membutuhkan kerja sama yang kuat antara gereja, pemerintah, dan masyarakat ohoi. Kolaborasi diperlukan agar potensi daerah dapat dikelola secara produktif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak dan Memasarkan harus terus dikembangkan melalui kolaborasi nyata, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh keluarga dan jemaat,” demikian pesan yang ditekankan dalam pelaksanaan program tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan budidaya teripang di Warbal tidak boleh berhenti pada hasil panen saat ini. Pengelolaan sumber daya laut harus dilakukan secara berkelanjutan agar kekayaan alam tersebut tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya sumber pangan, melainkan juga ruang kehidupan yang menopang perekonomian keluarga. Karena itu, pemanfaatannya membutuhkan tanggung jawab bersama, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan menghormati aturan adat yang diwariskan leluhur.
Sementara itu, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus merawat nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Lewerissa mengajak masyarakat untuk bangga terhadap budaya yang dimiliki dan terus mempertahankan tradisi lokal yang mengandung nilai kebersamaan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap alam.
Menurutnya, tradisi sasi mengajarkan masyarakat agar tidak memanfaatkan sumber daya alam secara sembarangan. Ada waktu untuk menahan diri, menjaga, dan memberikan kesempatan kepada alam untuk memulihkan potensinya sebelum hasilnya kembali dimanfaatkan.
Nilai tersebut semakin relevan di tengah upaya meningkatkan pendapatan keluarga tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya laut. Tradisi adat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga pedoman dalam mengelola lingkungan secara bijaksana.
Pelaksanaan Buka Sasi dan Panen Raya Teripang di Ohoi Warbal memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Keduanya saling mendukung ketika masyarakat, lembaga adat, gereja, dan pemerintah memiliki komitmen bersama.
Sasi Menjadi Penjaga Alam sekaligus Penopang Ekonomi
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, menegaskan bahwa tradisi sasi memiliki makna penting bagi masyarakat Maluku, khususnya masyarakat Kepulauan Kei.
Melalui aturan adat tersebut, masyarakat belajar mengenal batas dan waktu dalam memanfaatkan sumber daya alam. Dengan demikian, pemanfaatan kekayaan alam tidak hanya berorientasi pada keuntungan sesaat, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan kepentingan generasi mendatang.
Dalam konteks budidaya teripang di Ohoi Warbal, keberhasilan panen diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat bahwa sumber daya laut harus dijaga agar terus memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pengembangan potensi teripang juga membuka peluang bagi penguatan usaha keluarga. Apabila dikelola secara konsisten, didukung pendampingan, serta terhubung dengan akses pemasaran yang memadai, hasil laut berpotensi menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat.
Karena itu, Thaher mengingatkan bahwa tantangan selanjutnya bukan hanya mempertahankan keberhasilan panen, melainkan memastikan kegiatan produktif tersebut terus berjalan, memberikan nilai tambah, dan memperluas manfaat ekonomi bagi keluarga jemaat.
Prosesi Buka Sasi diawali oleh Tuan Tanah Ohoi Warbal sebagai bentuk penghormatan terhadap tata adat setempat. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa Buka Sasi dan Panen Teripang yang dipimpin Ketua MPH Sinode GPM, disaksikan langsung oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun.
Keterlibatan unsur adat, gereja, dan pemerintah dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam menjaga warisan leluhur sekaligus mendukung pembangunan ekonomi masyarakat.
Dari Warbal, tersampaikan pesan bahwa kekayaan alam akan memberikan manfaat lebih besar apabila dikelola secara bijaksana, tradisi leluhur tetap dihormati, dan masyarakat diberi ruang untuk tumbuh mandiri.
Melalui GKMBM, Jemaat GPM Warbal diharapkan tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan sumber daya laut, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga serta menjadikan potensi lokal sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan generasi mendatang.(IST)












