Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Maluku memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 M/103 H yang dirangkaikan dengan istighotsah dan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Kegiatan tersebut berlangsung di Istana Mini, Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (21/1) malam.

Peringatan Harlah NU yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia” dihadiri Rais Syuriah PWNU Maluku Ustadz Abdurrahman Tuanaya, Lc, Khatib Syuriah PWNU Maluku Ustadz Chairuddin Talaohu, Lc, Ketua Tanfidziyah PWNU Maluku Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I beserta jajaran pengurus PWNU, pejabat eselon III Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Asisten III Administrasi Umum Setda Maluku Tengah Hamit Pattisahusiwa, Kepala Kemenag Kabupaten Maluku Tengah Gani Wael, S.Ag, anggota DPRD Maluku Tengah, Ketua PCNU Maluku Tengah, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur Forkopimcam Kepulauan Banda Neira, Majelis Taklim, serta masyarakat setempat.
Ketua Tanfidziyah PWNU Maluku Dr. H. Yamin dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Harlah NU bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum muhasabah dan refleksi atas perjalanan panjang Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang telah berkhid
mat bagi agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa selama satu abad perjalanannya, NU telah membuktikan perannya sebagai benteng Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, penjaga tradisi Islam moderat, serta penguat persatuan umat dan bangsa.
NU secara konsisten hadir dalam menjaga harmoni sosial, merawat kebhinekaan, dan memperjuangkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Di Provinsi Maluku yang kita cintai bersama, NU berkomitmen untuk terus menjadi perekat umat, penyejuk di tengah masyarakat, serta mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas, toleransi, dan perdamaian antarumat beragama,” ujar Dr. Yamin yang juga Kakanwil Kemenag Maluku.
Menurutnya, istighotsah yang dilaksanakan merupakan wujud tawakal dan penghambaan kepada Allah SWT, dengan memohon pertolongan agar bangsa Indonesia, khususnya Maluku, senantiasa diberkahi, dijauhkan dari perpecahan, konflik, dan berbagai bencana.
Sementara itu, peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat pentingnya keimanan, ketaatan, dan kedisiplinan spiritual, terutama melalui pelaksanaan shalat sebagai tiang agama dan sarana pembentukan akhlak mulia.
Memasuki usia satu abad lebih, Dr. Yamin menegaskan bahwa NU dituntut untuk terus melakukan khidmah dan tajdid, serta memperkuat peran di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi umat, dan kebangsaan dengan tetap berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Semoga setiap ikhtiar kita dicatat sebagai amal saleh. Semoga Nahdlatul Ulama senantiasa diberkahi Allah SWT, istiqamah dalam perjuangan, dan terus menjadi cahaya bagi umat, bangsa, dan negara,” tutupnya.
Yamin juga menyinggung Strategis Majelis Taklim yang juga hadir langsung di tengah masyarakat Banda Neira, baik sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Maluku maupun sebagai Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku. Ia mengaku terkesan karena peringatan Harlah NU kali ini dirangkaikan dengan pelantikan sebanyak 31 Majelis Taklim, sebuah momentum yang dinilainya jarang terjadi di daerah lain.
Ia menegaskan bahwa Majelis Taklim memiliki peran strategis dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa.
“Majelis taklim jangan dianggap biasa-biasa saja. Dalam kondisi apa pun, majelis taklim dapat menjadi penentu arah kebijakan, baik di tingkat lokal hingga nasional,” tegasnya, disambut tepuk tangan para hadirin.
Ia berharap majelis taklim yang baru dilantik dapat terus berkembang dan menjadi motor penggerak pembinaan umat. Ia juga mendorong pembentukan majelis taklim bagi kaum bapak dengan pengaturan waktu yang bijak agar tetap menjaga keharmonisan keluarga.
Selain itu, ia menyinggung kunjungan dua Menteri Agama ke Pulau Banda sebagai sebuah kehormatan besar bagi masyarakat Maluku, seraya berharap kehadiran para pejabat pusat tersebut membawa dampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Banda.
Sementara itu, Rais Syuriah PWNU Maluku Ustadz Abdurrahman Tuanaya, Lc dalam ceramahnya mengingatkan jamaah tentang perjuangan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Nahdlatul Ulama. Ia menjelaskan bahwa NU didirikan melalui musyawarah para ulama, dengan restu guru beliau, Kyai Bangkalan, serta izin Rasulullah SAW.
Untuk diketahui, rangkaian kegiatan Harlah NU tersebut juga dirangkaikan dengan pelantikan Majelis Taklim se-Kepulauan Banda Neira serta Pengurus PCNU se-Pulau Banda Neira.(PM-01)













