BULA, TikMalukuNews.com – Keterlambatan pembangunan proyek SBSN pada MTsN 6 Seram Bagian Timur (SBT) akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pihak pelaksana. Proyek pembangunan gedung ruang kelas tipe 1 tersebut ditegaskan mengalami hambatan bukan karena kelalaian kontraktor, melainkan akibat faktor alam yang terjadi dalam waktu cukup panjang sepanjang 2025.
Cuaca ekstrem menjadi penyebab utama tersendatnya pekerjaan fisik di lapangan. Intensitas hujan tinggi yang berlangsung berbulan-bulan disertai angin kencang berdampak langsung terhadap stabilitas lokasi proyek dan infrastruktur pendukung. Kondisi ini membuat sejumlah tahapan pekerjaan tidak dapat dijalankan sesuai jadwal.
Dampak paling signifikan terlihat pada rusaknya akses transportasi menuju wilayah SBT. Beberapa jembatan penghubung dilaporkan ambruk akibat derasnya arus sungai saat curah hujan meningkat. Akibatnya, kendaraan pengangkut material proyek tidak dapat melintas secara normal.
Situasi tersebut diperparah dengan pembatasan tonase kendaraan yang bisa melintas pada jalur yang masih bisa digunakan. Kendaraan bermuatan besar tidak dapat lewat, sementara kebutuhan material konstruksi menuntut pengangkutan dalam volume besar. Hal ini membuat distribusi bahan bangunan tersendat.
Kendala akses ini bahkan menyebabkan jalur transportasi sempat terputus selama kurang lebih tiga minggu. Kondisi tersebut diperkuat oleh surat keterangan Dinas Perhubungan Pemda SBT Nomor 500.1.161/140/XI/2025 terkait kerusakan ruas jalan Bula–Waru dan Waru–Tutuk Tolu.
Selain persoalan akses, kondisi tanah di lokasi proyek juga menjadi tantangan tersendiri. Struktur tanah menjadi labil saat musim hujan sehingga pekerjaan struktur bangunan tidak bisa dipaksakan. Pihak pelaksana memilih menunda sebagian pekerjaan demi menjaga mutu bangunan serta keselamatan tenaga kerja.
Penanggung jawab proyek dari CV Kimberly Pratama, Rus Tuasikal, menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam keterlambatan tersebut. Menurutnya, kondisi alam memaksa pihak pelaksana melakukan penyesuaian teknis agar pembangunan tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.
Masalah lain muncul dari sisi ketersediaan material. Kota Bula mengalami kelangkaan semen yang berdampak langsung pada kelangsungan pekerjaan. Pasokan material harus didatangkan dari luar daerah seperti Ambon dan Papua, yang tentu memperpanjang waktu mobilisasi.
Di tengah situasi tersebut, kendala tenaga kerja juga sempat terjadi. Sejumlah pekerja dari luar daerah mengalami persoalan internal, bahkan mandor meninggalkan lokasi tanpa pemberitahuan. Akibatnya pekerjaan sempat terhenti sebelum akhirnya pihak kontraktor melakukan penggantian tenaga kerja.
Langkah strategis kemudian diambil dengan memaksimalkan tenaga kerja lokal. Pekerja dibagi dalam beberapa kelompok untuk menangani pekerjaan lantai satu dan lantai dua secara bersamaan agar progres pembangunan tetap berjalan meski dalam keterbatasan.
Direktur Utama PT Fiddina Alqaaf Konsultama, Fiqran M. Yusuf, S.M., M.PWK, juga membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut kelangkaan semen yang terjadi sejak 10 Desember 2025 menjadi salah satu faktor dominan, ditambah kerusakan jembatan dan jalan lingkar akibat cuaca buruk.
Meski demikian, pihak kontraktor memastikan komitmen penyelesaian proyek tetap menjadi prioritas. Progres pekerjaan disebut telah mencapai sekitar 90 persen. Berdasarkan regulasi Kementerian Keuangan, tersedia mekanisme perpanjangan waktu melalui sistem Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) dengan konsekuensi denda sesuai adendum kontrak. Kontraktor menargetkan pekerjaan rampung pada 31 Januari. (TM-01)
