AMBON,TikMalukuNews.com- – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ambon terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi dan profesionalitas tenaga pendidik. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan tema Strategi Pembelajaran dan Asesmen Berbasis Cinta.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi para guru untuk memperdalam pemahaman sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menyusun strategi pembelajaran dan asesmen yang lebih humanis, dengan mengedepankan nilai-nilai cinta serta memperhatikan kebutuhan peserta didik.

Dalam kegiatan tersebut, turut dilaksanakan penyerahan Surat Keputusan (SK) Pelaksana Tugas (Plt) Kepala MAN Ambon oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku, Farida Leisouw, kepada Rouslim Razad Musaad, S.Pd.
Dalam laporannya, Rouslim Razad Musaad menyampaikan bahwa workshop tersebut difokuskan pada penguatan kemampuan guru dalam merancang strategi pembelajaran dan asesmen dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mendorong guru agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih dekat dengan peserta didik.

Ia menjelaskan, MAN Ambon telah mulai menerapkan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta sejak kebijakan tersebut diperkenalkan. Melalui workshop ini, diharapkan pemahaman dan penerapan KBC semakin diperkuat dalam kegiatan belajar mengajar di lingkungan madrasah.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, guru-guru mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran di kelas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Maluku, Farida Leisouw, saat membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama yang harus diimplementasikan secara serius oleh seluruh madrasah.
Ia menjelaskan, KBC bukanlah kurikulum pengganti kurikulum nasional, melainkan pendekatan yang melengkapi proses pendidikan dengan memperkuat aspek spiritual, emosional, kemanusiaan, serta hubungan antarsesama dan lingkungan.
Farida juga mendorong para guru untuk tidak hanya menunggu sosialisasi atau pendampingan secara langsung, tetapi harus proaktif meningkatkan kompetensi dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar, termasuk platform digital.

Menurutnya, keterbatasan anggaran dan jumlah pengawas tidak boleh menjadi alasan terhambatnya implementasi KBC di madrasah.
“Sebagai guru profesional, kita tidak boleh hanya menunggu orang datang untuk mengajarkan. Guru harus mampu menjemput pengetahuan, mengembangkan diri, dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia,” tegasnya.
Farida turut mengingatkan pentingnya evaluasi terhadap hasil belajar peserta didik, khususnya melalui capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kepala madrasah dan guru diminta menjadikan hasil evaluasi sebagai bahan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada tahun berikutnya.
Ia menegaskan, kualitas guru tidak hanya diukur dari pemenuhan jam mengajar maupun sertifikasi, tetapi juga harus tercermin melalui peningkatan prestasi dan capaian peserta didik.
Karena itu, guru diharapkan terus mengembangkan profesionalitas, meningkatkan kreativitas pembelajaran, serta membangun lingkungan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai cinta.
“Jangan sampai guru semakin sejahtera, tetapi prestasi siswa tidak meningkat. Keduanya harus berjalan seimbang. Kita ingin guru terus meningkatkan kompetensi sehingga dampaknya benar-benar dirasakan oleh peserta didik,” tandasnya.
Melalui workshop tersebut, MAN Ambon diharapkan semakin memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, sekaligus melahirkan tenaga pendidik yang profesional, berintegritas, dan mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik.(TMN-01)













