AMBON,TikMalukuNews.com– Efisiensi anggaran yang terjadi pada tahun 2026 tidak menyurutkan langkah Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kemenag Kota Ambon dalam menjalankan berbagai program keagamaan.
Meski sejumlah kegiatan harus dipangkas, pelayanan kepada umat tetap menjadi prioritas utama.
Kasi Pembimas Katolik Kemenag Kota Ambon, Justinus Dairo Malo, mengakui bahwa saat ini pihaknya hanya mengandalkan anggaran operasional perkantoran.
Namun demikian, target kinerja yang ditetapkan oleh kementerian tetap harus dipenuhi sesuai perjanjian kinerja yang telah ditetapkan dari pusat hingga ke daerah.
“Memang di tahun 2026 ini karena efisiensi anggaran, beberapa kegiatan dipangkas dan dikembalikan. Saat ini kami hanya berjalan dengan anggaran operasional, tetapi kami tetap dibebankan perjanjian kinerja yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu program prioritas yang tetap dijalankan adalah early warning system guna mencegah potensi konflik keagamaan di tengah masyarakat.
Program ini didukung oleh para penyuluh agama, baik yang berstatus ASN maupun PPPK, yang aktif turun langsung ke lapangan.
“Kami tetap menjalankan program prioritas, terutama terkait early warning system. Penyuluh kami turun langsung ke masyarakat untuk berbaur dan memastikan tidak terjadi konflik atau pertikaian, khususnya dalam hal keagamaan,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga tetap berupaya hadir dalam berbagai kegiatan umat sebagai bentuk pelayanan. Bahkan, keterlibatan tersebut sering kali didukung secara swadaya oleh para pegawai sebagai wujud komitmen dalam melayani kebutuhan rohani masyarakat.
“Kami tetap berupaya hadir dalam kegiatan umat. Walaupun tanpa anggaran, kami berkontribusi secara pribadi agar tetap ada keterlibatan dalam kegiatan keagamaan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Sebagai bentuk inovasi di tengah keterbatasan, Bimas Katolik juga berencana mencetak buku renungan keagamaan. Buku tersebut akan dibagikan kepada umat Katolik di Kota Ambon dengan memanfaatkan anggaran terbatas yang tersedia.
“Kami berinovasi dengan mencetak buku renungan sederhana dari penyuluh untuk dibagikan kepada umat. Memang belum bisa mencetak kitab suci karena keterbatasan anggaran, tetapi ini menjadi langkah awal pelayanan kami,” ungkapnya.













